Thursday, October 29, 2015

Minyak Kelapa Sawit Dan Keberlangsungan Kehidupan Di Bumi - Palm Oil and Sustainability Living On Earth



Minyak kelapa sawit, jika menyebut nama ini kita akan teringat akan sebuah produk bahan pokok yang sulit terlepas dari keseharian kita. Dengan berbagai pilihan merek dan beragam produsen pembuatnya. Hampir semua orang pasti pernah merasakan kuliner yang diolah dengan menggunakan minyak ini. Tanpa kita sadari, dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk dunia, dan khususnya Indonesia, maka tingkat konsumsi masyarakat juga ikut meningkat. Pertambahan jumlah penduduk akan berbanding lurus dengan tingkat produksi minyak kelapa sawit, dengan konsekuensi, semakin besar pula pembukaan lahan untuk menanam pohon kelapa sawit.


Indonesia adalah salah satu negara tropis yang dikarunia hutan hujan yang sangat luas. Hutan inilah yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu paru-paru dunia. Namun, laju deforestasi dan konversi lahan semakin lama menghilangkan fungsinya yang vital. Hutan hujan yang berdiri di atas lahan gambut banyak yang bertransformasi menjadi perkebunan kelapa sawit. Laju deforestasi yang pesat telah menimbulkan dampak perubahan iklim yang signifikan akibat pelepasan karbon yang tidak terkendali, menyebabkan efek gas rumah kaca yang meningkatkan suhu permukaan bumi. Tercatat dalam Guinnes Book of World Record, sekitar 2% dari luasan hutan Indonesia berkurang setiap tahunnya.


Perkebunan kelapa sawit di Indonesia merupakan perkebunan yang terluas di dunia, di dukung faktor luasnya hutan hujan yang dimilikinya. Hal ini menyebabkan Indonesia ditempatkan sebagai negara utama pengekspor minyak kelapa sawit mentah. Dengan predikat ini, tak bisa dipungkiri Indonesia akan berusaha mempertahankan posisinya sebagai produsen utama minyak kelapa sawit mentah dunia dengan membuka lebih luas lahan perkebunan kelapa sawit untuk meningkatkan produksinya. Inilah yang dikhawatirkan akan menyebabkan semakin meluasnya dampak kerusakan lingkungan. Kerusakan yang tidak hanya menyebabkan hilangnya habitat flora dan fauna, tetapi juga dampak sosial yang secara umum dirasakan oleh rakyat Indonesia yang terpapar asap dampak kebakaran akibat pembukaan lahan baru dan khususnya yang dirasakan oleh masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari hasil hutan. Tak kalah penting juga yang dirasakan oleh masyarakat dunia karena perubahan iklim global akibat emisi gas CO2 yang makin meningkat setiap tahunnya.


Sangat miris ketika saya melakukan riset tentang perkelapasawitan, saya menemukan beberapa makalah yang nyata-nyata isinya mendukung industri kelapa sawit, mengajak para pembacanya memahami krusialnya industri kelapa sawit di Indonesia dan prospeknya di masa depan. Mungkin makalah ini ditujukan untuk menarik minat para investor agar menggelontorkan kekayaannya demi ekspansi kalap pengusaha minyak kelapa sawit serakah yang ingin merambah hutan demi keuntungan pribadi. Saya hanya bisa bergidik miris bagaimana hutan dihancurkan setiap harinya sementara saya tidak bisa berbuat apapun untuk mencegahnya. Lebih miris lagi jika negara ini selalu jadi kambing hitam penyebab perubahan iklim, sementara mereka yang bersuara lantang hanya bisa mengkritisi tanpa berusaha membantu mencegah kerusakan lebih lanjut. Dunia ini milik bersama, maka semuanya adalah senasib sepenanggungan, jika ada masalah di suatu tempat dampaknya akan dirasakan oleh yang lainnya.


Saya teringat akan buku yang cukup terkenal dari Kartini yang berasal dari kumpulan surat-suratnya kepada J.H. Abendanon. Ya, buku “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Namun kenyataan yang terjadi di negeri ini adalah sebaliknya, kita sedang menuju kegelapan dari jalan terang. Lebih tepatnya saya mengistilahkannya, “Habis Hutan Terbitlah Sawit.” Ketika memperdalam riset tentang sepak terjang industri sawit di tanah air, saya akhirnya menemukan 2 sajian data yang kontradiktif. Satu data berasal dari organisasi lingkungan, sebutlah namanya Greenpeace, dan data lainnya dirilis oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia. Greenpeace menyajikan laporan tentang kerusakan hutan akibat deforestasi dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit, sementara data yang lainnya menyatakan bahwa pembukaan lahan kelapa sawit bukanlah deforestasi, melainkan afforestasi atau istilahnya membangun fungsi ekologis hutan di luar (administratif) kawasan hutan.  Lantas laporan manakah yang lebih terpercaya di antara keduanya? Seorang awam mungkin sulit untuk menentukan kebenaran sebuah laporan, tetapi sebagai seseorang yang pernah belajar tentang ekologi, saya lebih mendukung data yang berasal dari Greenpeace. Sebuah makalah seharusnya dilakukan oleh lembaga independen yang obyektif dan tidak berpihak pada siapapun, menyajikan data dengan sebenar-benarnya sesuai kenyataan yang terjadi di lapangan tanpa merasa berada dalam tekanan pihak tertentu yang memiliki kepentingan. Saya menilai data yang lainnya sebagai sebuah usaha pembenaran agar mereka punya dasar untuk melakukan ekspansi lebih luas jika dibaca dan ditelaah lebih lanjut. Kenyataannya, tidak semua orang bisa dibodohi dengan sajian data yang diragukan validitasnya.  


Faktanya beberapa tahun belakangan Indonesia menjadi langganan kebakaran hutan, mirisnya, setelah lahan ini habis terbakar, entah bak spora jamur yang menemukan tempat lembab, bertebaranlah tunas-tunas kelapa sawit baru. Bukankah semua hal ini memiliki korelasi? Jika data Gabungan Pengusaha Sawit mengatakan bahwa perkebunan sawit memiliki daya serap CO2 lebih tinggi daripada hutan hujan, dan memiliki kelebihan dalam menangkap energi matahari dan menyimpannya menjadi biomassa (minyak sawit), sudahkah dipikirkan tentang ketersediaan unsur hara dalam tanah yang cepat atau lambat akan habis untuk memproduksi biomassa ini? Sudahkah dipikirkan tentang karakterisitik tanaman kelapa sawit yang memiliki sifat rakus air, menyebabkan pendangkalan di sungai dan menurunkan produktivitas tanah? Selain itu, dampak sosial bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari hutan, sudahkah hajat mereka terpenuhi, ataukah hanya segelintir orang saja yang menikmati hasilnya? Bisa disebut lebih unggulkah dengan semua fakta tersebut?




Saya semakin tergelitik untuk mencari secara random beberapa produk minyak goreng sawit, melihat seksama pada kemasannya, namun saya tidak menemukan sama sekali logo CSPO yang menyatakan bahwa minyak goreng tersebut adalah produk dari perkebunan berkelanjutan yang ramah lingkungan, bukan produk dari perkebunan hasil perusakan hutan. Ataukah memang tidak perlu mencantumkan logo tersebut karena semua produk minyak goreng adalah hasil sustainable plantation? Apakah masyarakat awam banyak yang tidak mengetahui hal ini dan menganggap semua produk minyak goreng adalah sama? Apakah jika produsen minyak sudah menjadi anggota RSPO lantas mereka tidak melakukan perusakan hutan? Saya membaca banyak kritik yang ditujukan ke badan ini, terkait dengan fakta di lapangan yang menunjukkan bahwa anggota-anggotanya terus melakukan perusakan hutan dan lahan gambut.




Sayang tidak semua orang mampu membeli alternatif pengganti minyak goreng, termasuk saya pribadi. Namun, jika memang belum mampu, setidaknya produsen pun harus memberi pemaparan kepada masyarakat awam dengan jelas dan gamblang pada produk mereka, sehingga masyarakat memiliki gambaran agar lebih bijak dalam memilih produk yang ramah lingkungan, daripada produk yang mendukung perusakan hutan.

.......................................................................................................
........................................................................ 

Friday, September 4, 2015

Malang Flower Carnival 2015 in A Glympse

Several weeks ago Malang city held an annual festivity called Malang Flower Carnival. Many talented designer participated on this event, and here some of their awesome works.



Friday, July 31, 2015

Malang Region Square (Alun-Alun Kota Malang) - Historical Site Now and Then


Malang has so many tourist attraction, one of them is the Malang City Square. Situated at the middle of the city, surrounded by Masjid Jami (Grand Mosque) on western part, some of department stores, commercial buildings and Bupati (head of the region) office on the eastern part, Malang Post Office on Southern part and another department stores on northern part. This actually an old concept of a city project initiated on most of Javanese cities.

After serious renovation, now the face of Malang Square (Alun-Alun) has changed a lot, different from the old one from the Dutch Colonial era.
 

Alun Alun Malang long time ago (antoniuscp.files.wordpress.com)

Friday, September 7, 2012

Up, Close, and Personal With Alex Annand


I present you my latest interview with my fellow model Alex James Annand.. Alex signed with MandP Models Agency and he's a British lad.. Check out our brief conversations... =D

1. How did you start modeling?

I was scouted by agency on Facebook.

2.  What would you do if you have cast or show early in the morning? Do you set alarm?

Yes off course all the time!

3.  The biggest dream you try to chase?

Get as much work as possible but at the moment I'm at college so it's hard for me.
 

Monday, July 30, 2012

Up Close And Personal - Interview With Model Sebastian Brice


I'm very lucky to be that I could make this new interview session with Sebastian Brice. I spotted him to be very popular for Burberry show, and some video I watched for Z Zegna campaign. Still interested to continue reading? I'll show you here.. 
............................................

1. How did you start your modeling career?

I was scouted on holiday with my girlfriend in Amsterdam. Just walking down the street, Jorma from Republic Men agency in Amsterdam approached me and encouraged me to get in touch with Models 1. I'd never imagined it was something I could do, but my girlfriend convinced me to follow it up. I was a bit worried it was a scam or something.

2. How do you share your time between modeling and band?

It's difficult because modelling jobs are usually last minute.. you might get confirmed for a job the day before the shoot. It makes it difficult to plan gigs, studio time, rehearsals. But it seems to work out somehow!

Saturday, July 28, 2012

Celebrating 10.000 Visitor - Thank You All My Blog Reader

Celebrating my 10.000 audiences, I really wanna say many thanks to all my reader. I just want to post something interesting. Few days ago I receive postcards from Sao Paulo, from a friend who live there. This is the first time I know that Sao Paulo Fashion Week was held in the place you saw on this postcard. Take a look closer on Ibirapuera Park. It's such a lovely place on how the fashion week happen in Brazil.





Friday, July 20, 2012

Milan Men Fashion Week SS 2013 - Model Spotlight

Fashion in every season always full of sensation. Every season you'll find some different faces.

I spot on some new faces that pretty new for me.. I pick several shows that luckily these guys are in

Here some new faces of Milan Fashion Week spring Summer 2013

 


Taylor Cowan in Corneliani